Daily Archive 04/06/2026

Pembentukan Destana Desa Sumbung

Destana adalah akronim dari Desa Tangguh Bencana, yaitu sebuah program dari pemerintah Indonesia yang diinisiasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tujuannya adalah untuk membentuk desa yang memiliki kemampuan mandiri dalam beradaptasi dan menghadapi potensi ancaman bencana.

Berikut adalah inti, tujuan, dan karakteristik dari Destana:

  • Mengenali Ancaman & Mitigasi: Desa dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi dan memetakan jenis bencana di wilayah mereka, seperti banjir, longsor, atau gempa bumi. Ini termasuk menentukan jalur evakuasi dan titik kumpul darurat.
  • Pengorganisasian Masyarakat: Warga desa didorong untuk mengorganisir sumber daya yang ada guna mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas diri. Warga menjadi pelaku utama dalam penanggulangan bencana sebelum bantuan dari luar datang.
  • Pemulihan Cepat: Mempersiapkan masyarakat agar mampu memulihkan diri dengan segera setelah terjadinya bencana yang merugikan.
  • Integrasi Pembangunan: Konsep ketangguhan bencana dimasukkan ke dalam perencanaan pembangunan desa, mencakup upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan pengurangan risiko.

Desa Sumbung menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan Pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) yang berlangsung selama 4 hari. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas, kesiapsiagaan, serta peran aktif masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di wilayah desa. Pembentukan DESTANA ini diprakarsai oleh BPBD Provinsi bersama BPBD Kabupaten sebagai wujud komitmen dalam memperkuat ketangguhan masyarakat dan mewujudkan desa yang mampu mengenali risiko, siap siaga, serta tanggap terhadap bencana. Melalui kegiatan ini diharapkan terbangun sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, tangguh, dan berkelanjutan.

Pemerintah Desa Sumbung melaksanakan kegiatan pemetaan dan simulasi bencana sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana alam. Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari perangkat desa, relawan, masyarakat umum, Bidan Desa, hingga ibu-ibu TP-PKK Desa Sumbung yang turut berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan.

Kegiatan diawali dengan pemetaan wilayah rawan bencana melalui identifikasi titik rawan longsor, jalur evakuasi, titik kumpul, serta lokasi aman yang dapat digunakan saat keadaan darurat. Proses pemetaan dilakukan secara bersama-sama agar masyarakat memahami kondisi wilayah dan langkah penanganan yang harus dilakukan apabila terjadi bencana.

Setelah proses pemetaan, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi penanganan bencana tanah longsor. Dalam skenario simulasi digambarkan terjadi longsor akibat hujan deras yang menyebabkan akses jalan tertutup material tanah dan beberapa rumah warga mengalami kerusakan.

Dalam simulasi tersebut terdapat 3 orang korban yang harus segera dievakuasi menuju titik aman untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Selain korban jiwa, simulasi juga menggambarkan adanya kerugian materiil berupa kerusakan rumah warga dan terganggunya akses mobilitas masyarakat. Tim relawan bersama warga bergerak melakukan evakuasi, pengamanan lokasi, pendataan korban, serta koordinasi penanganan darurat melalui posko siaga desa.

Ibu-ibu TP PKK Desa Sumbung turut mengambil peran penting dalam simulasi, terutama dalam membantu penanganan warga terdampak, mendukung kebutuhan logistik darurat, serta membantu menciptakan suasana tertib dan kondusif selama kegiatan berlangsung. Melalui kegiatan pemetaan dan simulasi bencana ini, diharapkan masyarakat Desa Sumbung semakin memahami pentingnya mitigasi bencana, memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik, serta mampu memperkuat semangat gotong royong dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.

====================

#desasumbung
#pemdessumbung
꧁ꦄꦝ꧀ꦩꦶꦤ꧀ꦝꦺꦱ꧀ꦱꦸꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧂

====================